Blog Ilmiah Digital Dosen

Menu
  • Home
  • NgoPi
  • Kasih
  • Informasi
  • Download
    • Hadist
    • Tafsir
    • e-book
  • Kampus
  • Etc
Tampilkan postingan dengan label NgoPi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NgoPi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 September 2025

KENAPA ANDA MENGATAKAN, "MUDAH-MUDAHAN ALMARHUM ( BAPAK HMA TIHAMI ) KHUSNUL KHATIMAH" : APAKAH MASIH RAGU ATAU MERAGUKAN IHWAL KESALIHANNYA?

By Syair Syi'ar Kearifan Guratan Digital DosenSeptember 05, 2025NgoPi Tidak ada komentar

 



Dalam sebuah hadis sahih "muttafaq 'alaih" ( yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim ), Rasullah saw. mengungkapkan tentang keistimewaan hari Jum'at, bahwa pada hari tersebut ada "Sa'ah Ijabah" ( waktu do'a dikabulkan). Siapapun yang berdo'a tepat pada "Sa'ah Ijabah" tersebut berlangsung, maka segela permintaan apapun bentuknya yang diajukan kepada Allah, pasti dikabulkan oleh-Nya. Selanjutnya beliau saw. memberi isyarat dengan tangannya, bahwa waktunya sangat singkat".

Seperti halnya Lailatul Qadar di malam  bulan Ramadhan, " Sa'ah Ijabah" pun keberadaan waktunya dirahasiakan. Hingga dalam hal ini para ulama ( mungkin berdasarkan pengalaman empirik masing -masing ) berbeda pendapat. Kubu pertama ( antara lain) ditokohi :  Ibn al-'Arabi, al-Baihaqi, al-Qurthubi, Al-Nawawi, Ibn al-Rajab dan Ibn 'Abidin. Mereka berpendapat, bahwa ia ( Sa'ah Ijabah) tersebut terjadi, yakni bertepatan ketika khatib naik mimbar, hingga prosesi shalat Jum'at dinyatakan selesai. Sementara kubu kedua yang ditokohi : Ahmad, Ishaq, Ibn 'Abd al-Bar dan mayoritas para imam mujtahid, atas dasar Hadits Riwayat Abu Dawud, bahwa ia ( Sa'ah Ijabah) tersebut terjadi setelah shalat 'Ashar. Pendapat yang terakhir ini, juga didukung oleh al-Nasa'i (3/99)), Hakim ( al-Mustadrak : 1032 ) dan Ibn al-Rajab (.Fathu al-Bari : 5/356).

Apakah ada kaitannya antara "Sa'ah Ijabah" dengan yang wafat " di hari 'Jum'ah", bahwa dia dinyatakan memiliki pahala seperti mati "Syahid "? Secara tekstual (langsung), memang tidak kaitannya. Namun andai dibedah secara kontekstual ( tidak langsung) dijamin ada kaitannya. Apa dialektika aksiomatiknya?

Tadi dalam hadis sahih di atas ( juga dijelaskan oleh para ulama), bahwa siapapun yang berdo'a, dan apapun bentuk do'anya, baik dilakukan saat terjadi prosesi khutbah Jum'at hingga selesainya atau setelah waktu Ashar, maka ia ( do'anya) pasti diijabah (dikabulkan).

Saya yakin, dengan tulus ikhlas banyak kaum muslim, muslimat yang mendo'akan al-Marhum Bapak HMA. Tihami, ( di dua waktu tersebut), baik dari pihak keluarga, para sahabat, para mahasiswa, para dosen dan seterusnya. Sampai di sini, saya yakin, bahwa dari sebanyak pendo'a tersebut, pasti ada yang tepat pada "Sa'ah Ijabah"  berlangsung. Maka tidak diragukan lagi, do'a mereka pasti dikabulkan oleh Allah. Dan andai mereka berdo'a kepada-Nya supaya beliau  diampuni segala dosanya dan dimasukkan ke dalam Surga-Nya, Anda mau komentar apa lagi? Kecuali : استحق عليه الجنة

Saya sendiri khususnya, berani " Isyhad", bahwa beliau ( almagfurlah) adalah "Husnul Khatimah" ( saya tidak usah mengatakan " semoga Khusnul khatimah". Kenapa bisa? Mari kita ikuti definisi "Khusnul khatimah" ( antara lain ) versi Daaru al-Ifta al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir), sebagai berikut :

يراد به توفيقُ الله سبحانه وتعالى لعبده أن يعمل خيرًا في حياته، وأن ييسر له ويوفقه للدوام على العمل الصالح قبل موته حتى يقبضه عليه، حيث لا يبقى للإنسان بعد وفاته إلا إحسانٌ قَدَّمَه في حياته يرجو ثوابه، أو عصيانٌ اجتَرَحَهُ يخشى عقابه.                                               
"Yang dimaksud dengannya ( Husnul khatimah) adalah pemberian Taufiq dari Allah kepada hamba-Nya, hingga di akhir hayatnya dia berbuat baik. Dan sebelum dia dicabut nyawanya, juga oleh-Nya diberi kemudahan untuk selalu berbuat baik ( beramal shalih). Sehingga ketika wafat, dia tidak memiliki dosa, yang ada adalah kebaikan yang menunggu pahala dari Allah.

Saya meyakini bahwa semua kriteria di atas, dimiliki oleh beliau (HMA Tihami). Beliau sengaja dipilih oleh Allah harus wafat di hari Jum'at,  sebagai hari yang mulia dan rajanya segala hari  ( سيد الأيام) dan juga bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari kelahiran Nabi kita yang mulia Muhammad saw. Sekali lagi saya pastikan, bahwa beliau adalah " Husnul Khatimah". Kenapa Anda katakan " semoga" atau " mudah-mudahan" beliau menjadi " Khusnul khatimah", apa Anda masih ragu atau meragukan kesalihan beliau?

Untuk memperkuat keyakinan di atas, saya pungkas dengan sebuah hadis Targhib yang dikeluarkan oleh al-Hafizh Abu Nua'im dalam "حلية الأولياء", ( yang konon dia kutip) dari sahabat Jabir: رضى الله عنه , bahwa dikatakan oleh Rasul saw. :

«مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، أُجِيرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ طَابَعُ الشُّهَدَاءِ»           
 
"Barang siapa yang meninggal dunia pada hari atau malam Jum'at, maka dia diselamatkan dari siksa kubur dan dia nanti datang pada hari kiamat diberi stempel "mati syahid".

Atas dasar teks ( matan) hadits di atas, Ali al-Qari dalam kitabnya " مرقاة المفاتيح", memberi syarah (komentar) :

أن مَن مات يَوْمَ الْجُمُعَةِ له أجر شهيد، فكان على قاعدة الشهداء في عدم السؤال.. وهذا الحديث لطيفٌ صرح فيه بنَفْي الفتنة والعذاب معًا] اهـ.                                     

"Siapa yang meninggal dunia pada hari Jum'at, dia memperoleh pahala syahid. Dia bertengger di barisan syuhada tanpa disual ( dihisab ).Hadis ini secara halus menjelaskan, bahwa tidak ada fitnah dan adzab sekaligus".

Ini adalah hadis sufistik yang transendental teologistik ( لطيف ) yang tidak perlu di seret ke ruang debetable yang berbasis rasionalistik. Yang mesti disentuh dan dipahami adalah dari dimensi semangat transendentalnya pula : 

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

Wallahu A'lam bi al-Shawab.

Read More

IN MEMORIAM PROF. DR. HMA TIHAMI, MA, MM.

By Syair Syi'ar Kearifan Guratan Digital DosenSeptember 05, 2025NgoPi Tidak ada komentar



Setiap kali saya membaca goresan beliau di group pensiunan (FSPB/STAIN/IAIN/UIN BANTEN), selalu membuat saya tertawa. Betapa tidak, setiap dialektika bahasanya yang beliau ungkapkan selalu sarat dengan nada kelakar (candaan). Terutama sasaran tembaknya diarahkan pada yai Sugiri, juga sama ahli kelakar ( jadi nyambung).

Namun belakangan menghilang. Tiba-tiba ada postingan, bahwa beliau sedang dirawat di Rumah Sakit. Tampak wajahnya pucet namun tetap seperti ceria. Saya tidak sempat mengirim do'a untuk kesembuhan beliau.

Hanya saja sekitar jam 02 pagi ( Jum'at, 5 September 2025 M. / 12 Rabiul Awal 1447 H. ) saya mencoba membikin judul " In Memoriam : Prof. Dr. HMA Tihami, MA, MM". untuk sebuah tulisan. Sadar dan menyadari, bahwa beliau masih hidup, akhirnya saya delete judul tersebut.

Pagi harinya sekitar jam 11, 04 saya membaca berita di group pensiunan yang dikirim Admin, bapak A. Hidayat, bahwa beliau telah pulang ke Rahmatullah. Setalah membaca berita tersebut, betapa saya tidak bisa menahan air mata : Innalillahi wainnailaihi raji'jiun. Habis Jum'atan, saya melaksanakan Shalat Ghaib untuk beliau ( Allah Yarhamhu).

Spesial dengan beliau saya mempunyai kenangan tersendiri. Sekitar tahun 1994, saya ditugaskan di Fakultas Syari'ah IAIN "Sunan Gunung Djati Serang" Cabang  Bandung yang waktu itu Dekannya Bapak H. Suparman Usman, SH. ( sekarang Guru Besar, Prof. Dr. H. Suparman Usman, SH.).

Kalau tidak salah baru tiga bulan saya bertugas ( waktu itu saya ditempatkan menjadi staf di Perpustakaan bersama al-Marhum Bapak Sari dan Ibu Dena). Saya diajak pak Lutfi ( kalau tidak salah ) untuk ikut bergabung bersama rekan-rekan lain dalam acara pengajian di bawah pengajar dan pembimbing bapak HMA TIHAMI, MA. tempatnya ( sekarang dipakai kantor LBH?). Adapun kitab yang diaji (dikaji) adalah "Nihayatuz Zein" karya Imam al-Nawawi al-Bantani.

Kenapa mesti kitab tersebut? Karena erat kaitannya dengan pembahasan Disertasi yang beliau garap, yaitu tentang epistemologi Fiqh al-Nawawi. Setiap menemukan kalimat penting yang kaitannya dengan tema bahasan Disertasinya, beliau selalu mencatatnya dengan teliti.

Singkat cerita, Alhamdulillah pengajian kitab tersebut, hingga tamat. Mungkin sebagai syukuran alakadarnya, beliau ( habis Maghrib) mengirim ketupat kepada saya dan pak Hafizh Rustaman yang waktu itu kami tinggal di kamar Masjid Al-Hikmah.

Pada satu malam, saya bermimpi. Waktu itu sepertinya saya tengah berada di pematang sawah. Tiba-tiba saya dihampiri oleh orang tua ( hampir kakek-kakek yang wajahnya bersih), lalu dia berkata, " Pelajari ( aji) kitab "Maraqil Ubudiyah". Ternyata kitab tersebut adalah karya Imam al-Nawawi al-Bantani. Wah jangan-jangan orang tua tersebut adalah beliau sendiri ( al-Nawawi).

Hasil mimpi tersebut, pagi harinya saya laporkan kepada beliau. Beliau berkata,   "Ya pak Asep-beliau bilangnya begitu kepada saya-kita aji ( kaji ) kitab itu". Dengan tenaga pengajar dan pembimbing beliau, kami dengan rekan-rekan yang lain belajar ( ngaji) bersama, dengan materi kitab tersebut. Karena sesuatu dan lain hal ( beliau rupanya sibuk) kitab tersebut sepertinya tidak sampai tamat.

Ada catatan lain. Beliau saat itu adalah Redaktur Buletin Al-Qalam. Saya untuk pertama kali menulis artikel dengan judul
"Teguran Allah Kepada Rasul saw. Atas Perlakuannya Terhadap Ibn Ummi Maktum ( Sebuah Kajian Perspektif Fiqh Siyasah). Saya serahkan kepada beliau, supaya dikoreksi dengan harapan ia bisa diterima ( dimuat). Dalam pada itu beliau berkata kepada saya, "Kalau sudah menulis satu kali, biasanya keterusan". Intinya beliau menyarankan, supaya saya rajin menulis.

Alhmdulillah, berkat saran beliau tempo doeloe, di injury time seperti sekarang ini saya jadi hobi menulis. Kalau belum menulis, saya sulit tidur ( apa saja temanya : ngaler ngidul, ngelantur ke mana-mana tidak karuan, masa bodoh, yang penting jadi).

Sang Guru Besar, Lautan Ilmu, Rendah Hati dan Berakhlak Mulia, kini beliau telah berpulang ke Rahmatullah untuk selamanya. Saya Isyhad kepada-Mu ya Allah, bahwa beliau adalah "Ahlul Khair" dan "Husnul khatimah".

 يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke rabmu dalam keadaan ridha serta diridhai. Masuklah ke dalam kelompok hamba-Ku dan masuk ( pula) ke dalam Surga-Ku", ( al-Fajr : 27).

Wallahu A'lam bi al-Shawab.

Read More

Minggu, 02 Juni 2024

MERDEKA, SALAM PANCASILA

By Syair Syi'ar Kearifan Guratan Digital DosenJuni 02, 2024NgoPi Tidak ada komentar



Setiap agama dipastikan, malah harus memiliki basis ciri khas ( كلى خاص ) tersendiri yang tidak dimiliki oleh agama yang lain. Karena dengannya, bisa dilihat jelas ihwal eksistensinya. Dan yang terakhir ini menjadi kebanggaan tersendiri. Maka di situ sikap panatik ( ghirah) menjadi sebuah keniscayaan ( bahkan kemestian), yang logis adanya.

Misal konkretnya, dalam "ucapan selamat". Masing-masing memiliki cara tersendiri. Hanya dengan alasan demi mengusung panji toleransi, tidak otomatis begitu saja secara random boleh mencomot bentuk salam dari semua agama, sesuai dengan rangsangan selera. Dalam satu pertemuan misalnya. Ketika yang hadir mayoritas muslim, saya baca salam versi Islam, ketika yang mayoritas Hindu, saya baca versi Hindu, ketika yang mayoritas Kristen, saya baca versi Kristen, begitu seterusnya.

Sampai di sini saya setuju dengan salah satu poin keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia yang dibacakan oleh Ketua SC yang juga Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh, Kamis (30/5/2024), bahwa "pengucapan salam dengan menyertakan salam berbagai agama dengan alasan toleransi dan/atau moderasi beragama, bukanlah makna toleransi yang dibenarkan".

Nah, dalam konteks sebuah pertemuan, dimana semua agama hadir, redaksi salam mana yang mesti diungkapkan, apakah sesuai dengan anutan mayoritas ( Islam umpamanya), atau sesuai selera dan atau menggunakan kompromi ( طريق الجمع ), semua salam agama disatukan?

Versi saya, teori paling bijak, mesti dihadirkan " Salam Kebangsaan" . Ini pilihan yang paling elegan, yang bisa diterima semua pihak. Dan satu catatan paling penting, dengan cara seperti itu, menghindari pemahaman ritualitas ( تعبدية).
Umpamanya : Hadirn yang berbahagia, "Merdeka Salam Pancasila".

Saya pikir, ini sebuah model paling "Holistik" ( kalaupun tidak dikatakan "Holiday"). Gitu aja repot. !!!

 

By-Drs. H. Saepullah S, M.Ag   

Read More

Senin, 27 Mei 2024

ABI FARAS AL-HAMDANI : DENGAN CINTA SEGALANYA BISA

By Syair Syi'ar Kearifan Guratan Digital DosenMei 27, 2024NgoPi Tidak ada komentar


 ABI FARAS AL-HAMDANI : DENGAN CINTA SEGALANYA BISA
                
         فليتك تحلو والحياة مريرة              

Kendati fakta dan realita berbicara, bahwa kehidupan ini sungguh pahit, namun aku berharap kamu tetap manis.

وليتك ترضى والأنام غضابُ.           

Kendati orang-orang di seputar sibuk pada membenci, aku berharap kamu tetap ridha ( rilex).

وليت الذي بيني وبينك عامر وبيني وبين العالمين خرابُ

Kendati antara aku dan dunia ini memang ada kesunyian, namun antara aku dan kamu tetap berada dalam kedamaian.

إذا صح منك الود فالكل هين.             

Jika aku telah mendapat rasa cinta dari kamu, maka segala kesulitan apapun menjadi mudah.

وكل الذي فوق التراب ترابُ.           

Dan karena sudah terhijab oleh keagungan cintamu pula, maka segala apapun yang ada di atas bumi ini, tidak ada harganya kecuali sekedar tanah biasa.

 

By-Drs. H. Saepullah S, M.Ag  

Read More

TAHNI'AH UNTUK MAHASISWA SYARI'AH MENJADI JUARA 2

By Syair Syi'ar Kearifan Guratan Digital DosenMei 27, 2024NgoPi Tidak ada komentar


 TAHNI'AH UNTUK MAHASISWA SYARI'AH MENJADI JUARA 2 ( Lomba Debat Hukum HUT Bhayangkara ke-78 Tingkat Polda Banten").

Debat adalah sisi lain dari bentuk metode pembelajaran logika, supaya bisa beroperasi secara tertib, sistemik, valid dan rasional. Garis tegas anutan yang dikonstruksi olehnya, pertama bagaiman cara bersikap militansi ketika mempertahankan pendapat yang tentunya disokong secara utuh dan permanen oleh dalil serta logika yang lentur dan kuat; ke-dua dalam waktu bersamaan, juga harus mampu merobohkan pilar pendapat dan argumen yang dipancangkan oleh lawan debat.

Debat dalam konteks dunia pesantren, populer dengan terminologi " المناظرة". Satu di antara sekian kitab yang menjadi rujukan dalam berdebat-المناظرة- ( cara memenej logika yang tertib dan benar), adalah kitab "Sulam Munawwaraq " ( سلم المنورق) buah karya Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari.

Kitab tersebut fisiknya memang kecil, hanya memuat lebih kurang sebanyak 144 bait, dibanding kitab Alfiyah Ibn Malik memuat 1000 bait. Namun demikian, materinya dijamin akan membuat akal pikiran kita menjadi pening, namun juga sekaligus bisa terlatih, sehingga selanjutnya bisa berpikir secara tertib, logis dan rasional.

Adalah Imam Al-Ghazali yang membela mati-matian terhadap eksistensi dan peran Ilmu Logika. Sehingga dikatakan olehnya,  "Keilmuan seseorang masih patut ( harus )
diragukan andai belum mampu dan sanggup bersilat logika".

Maka ketika saya melihat photo dan membaca ungkapan selamat dari rekan-rekan atas kekeberhasilan anak -anak kita menggondol juara ke 2 dalam Lomba Debat Hukum HUT Bhayangkara ke-78 Tingkat Polda Banten", "cukup bangga", namun "tidak aneh". Apa pasal? Karena dari dulu di fakultas kita ( Syari'ah) diajarkan Ilmu Mantiq ( Ilmu Logika). Jadi para mahasiswa kita sudah terbiasa bermain logika (  berpikir logis dan rasional dalam berdebat).

Namun, apapun yang terbukti, ini sesungguhnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Fakultas kita. Secara vertikal, kita mesti bersyukur kepada Allah dan secara horizontal, tentu kita mesti komit untuk berikhtiar ke lintas lain yang lebih menantang.  Sebab meraih prestasi apapun wujudnya adalah sebuah proses dialektika yang tidak pernah tuntas.

Dan kepada semua pihak yang berjasa di belakang layar atas kesuksesan anak-anak ( mahasiswa) kita meraih prestasi tersebut, mudah-nudahan manjadi catatan partisipasi amal shalih. Amin...!

Sumber foto : https://s.id/26jd2


 

By-Drs. H. Saepullah S, M.Ag  

Read More
Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

Postingan Populer

  • AHMAD SYAUQI : GURU SEBAGAI RASUL PENYAMBUNG LIDAH AMANAT ALLAH  ( Selamat Hari Guru Nasional Ke-29 - 25 November 1994-2023)
      Ketika sebuah kosakata, termenologi, idiom atau struktur kekataan lainnya dilingkung aneka corak makna leksikal, sesungguhnya di situ leta...
  • SELAMAT HARI ANAK SEDUNIA KE-69, 20 NOVEMBER 1954-2023, ( Mari Jaga dan Lindungi Hak-Hak Anak)
     Al-Jannah, yang sudah akrab dan kental dengan sebutan "Surga", versi bahasa, arti orsinilnya adalah "gelap". Kok gelap,...
  • IN MEMORIAM PROF. DR. HMA TIHAMI, MA, MM.
    Setiap kali saya membaca goresan beliau di group pensiunan (FSPB/STAIN/IAIN/UIN BANTEN), selalu membuat saya tertawa. Betapa tidak, setiap d...
  • Prompting engineer
      Rekayasa prompt adalah teknik yang digunakan dalam sistem AI untuk memberikan instruksi secara jelas agar sistem AI dapat menghasilkan out...
  • Layanan Repository Open Access erguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN)
      Daftar Kampus yang menerapkan layanan repository open access berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang berada di ...
  • Apa Itu AI (Artificial Intelligence)
       AI atau kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) merujuk pada kemampuan mesin atau komputer untuk meniru kecerdasan manusia dalam mela...
  • MASUKLAH ANGGOTA KOMUNITAS AL-GHURABA !         
       Operasi budaya kaum jahili yang menyasar nyaris ke setiap sudut lekuk hidup dan kehidupan, seakan menjadi barometer untuk mengukur tingka...
  • Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving
      ALBERT EINSTEIN : HIDUP IBARAT MENGAYUH SEPEDA Bisa jadi, adalah sebuah keterlaluan yang terlalu, andai tidak mengenal orang yang satu ini...
  • MERDEKA, SALAM PANCASILA
    Setiap agama dipastikan, malah harus memiliki basis ciri khas ( كلى خاص ) tersendiri yang tidak dimiliki oleh agama yang lain. Karena dengan...
  • QS. Al-Hasyr 59: 21-22.
      🌷 K A S I H ( Kajian Ayat Suci Alquran Harian) QS. Al-Hasyr 59: 21-22. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا ال...

Kunjungan

Flag Counter

Total Pengunjung

Categories

  • Informasi (5)
  • KasiH (68)
  • NgoPi (68)

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  September (2)
      • KENAPA ANDA MENGATAKAN, "MUDAH-MUDAHAN ALMARHUM ( ...
      • IN MEMORIAM PROF. DR. HMA TIHAMI, MA, MM.
  • ►  2024 (113)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (47)
    • ►  April (22)
    • ►  Maret (29)
    • ►  Januari (14)
  • ►  2023 (32)
    • ►  Desember (32)

Copyright © Blog Ilmiah Digital Dosen | Powered by Blogger
Design by Flythemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Free Blogger Templates